Seberkas Cahaya

Bacaan Yohanes 12:9-11
Persepakatan untuk membunuh Lazarus

12:9 Sejumlah besar orang Yahudi mendengar, bahwa Yesus ada di sana dan mereka datang bukan hanya karena Yesus, melainkan juga untuk melihat Lazarus, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati.
12:10 Lalu imam-imam kepala bermupakat untuk membunuh Lazarus juga,
12:11 sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus.

                         ~~~~~□~~~~~

Pembukaan.

Yohanes pasal 12 menandai masuknya Yesus ke Yerusalem dengan penuh kemenangan. Bagaimana peristiwa ini memulai minggu terakhir pelayanan-Nya di bumi? Teks penting ini menceritakan pengurapan di Betania, sorak sorai orang banyak, dan khotbah publik terakhir Yesus. Pasal ini membahas tema-tema seperti pengorbanan, kemuliaan melalui penderitaan, dan penghakiman dunia. Yohanes 12 mempersiapkan panggung untuk peristiwa penyaliban. 

Pendalaman Yohanes 12:9-11.

Pada bagian awal pasal ini (Yohanes 12:1-8) menceritakan Yesus dijamu di Betania enam hari sebelum Paskah, di mana Maria mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu mahal, menunjukkan kekaguman dan pengabdiannya. Tindakan ini melambangkan persiapan Yesus untuk kematian-Nya dan merupakan contoh penyerahan dan pelayanan tanpa syarat (lihat juga Matius 26:6-13 dan Markus 14:3-9).

Selanjutnya dalam bacaan lnjil hari ini, Yohanes 12:9-11 menunjukkan respons publik yang masif terhadap mukjizat pembangkitan Lazarus oleh Yesus, yang memicu kemarahan pemimpin agama. Banyak orang Yahudi percaya kepada Yesus karena bukti hidup, yaitu Lazarus, sehingga imam-imam kepala berencana membunuh Yesus dan Lazarus. 
Ini menggambarkan bagaimana terang Kristus dapat menyingkap kegelapan hati manusia (lihat juga Yohanes 3:19-21 dan Matius 27:18).

Refleksi.

"Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki" (Matius 27:18)

Pembaca terkasih, ayat Matius 27:18 ditemukan dalam konteks penyaliban Yesus. Dalam pasal ini, kita melihat bagaimana para pemimpin agama pada masa itu, yang didorong oleh rasa iri dan keinginan untuk mempertahankan posisi kekuasaan mereka, menyerahkan Yesus kepada otoritas Romawi untuk diadili dan dihukum mati.

Iri hati telah menjadi tema yang berulang dalam sejarah Alkitab. Dari kitab pertama, kita menemukan kisah Kain dan Habel, di mana rasa iri Kain terhadap saudaranya menyebabkan dia membunuhnya. Kita juga dapat melihat rasa iri hadir dalam kisah Yusuf dan saudara-saudaranya dalam kitab Kejadian.

Dalam kisah Yesus, kita melihat rasa iri hadir pada para pemimpin agama yang tidak tahan dengan kenyataan bahwa Yesus mendapatkan pengikut dan menggerakkan massa dengan ajaran-Nya. Rasa iri mengaburkan penilaian mereka dan menyebabkan mereka melakukan tindakan yang tidak adil dan tidak manusiawi.

Iri hati tetap menjadi masalah dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita pun bisa merasa iri terhadap harta benda, kesuksesan, kegantengan atau kecantikan orang lain dan sebagainya. Hal ini dapat menyebabkan kita berperilaku negatif terhadap orang lain, baik dengan menjelek-jelekkan mereka, mencoba merusak reputasi mereka, atau bahkan mendoakan keburukan bagi mereka.

Rasa iri juga dapat menjadi penghalang bagi pertumbuhan pribadi kita sendiri. Jika kita terus-menerus membandingkan diri kita dengan orang lain dan merasa iri terhadap pencapaian mereka, kita tidak fokus pada jalan dan perkembangan kita sendiri.

Matius 27:18 menunjukkan kepada kita bahwa rasa iri dapat menyebabkan kita bertindak tidak adil dan kejam terhadap orang lain. Tetapi ayat ini juga memberi kita kesempatan untuk merenungkan bagaimana rasa iri dapat hadir dalam kehidupan kita sendiri.

Alih-alih membiarkan diri kita dikuasai oleh rasa iri dan bertindak negatif terhadap orang lain, kita harus mencoba untuk fokus pada pertumbuhan pribadi dan tujuan kita sendiri. Belajarlah untuk melihat segala sesuatu dari perspektif yang lebih luas dan kembangkan sikap bersyukur atas apa yang kita miliki daripada membandingkan diri kita dengan orang lain.

Rasa iri adalah masalah manusia yang telah ada sepanjang sejarah Alkitab dan terus memengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Matius 27:18 mengajak kita untuk merenungkan bagaimana iri hati dapat memengaruhi tindakan kita dan mengundang kita untuk menumbuhkan sikap syukur dan fokus pada jalan pertumbuhan pribadi kita sendiri.

Percakapan Yesus dengan Nikodemus meneguhkan kita: "Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah." (Yohanes 3:19-21)

Penutup.

Bacaan lnjil Yohanes 12:9-11 mengundang kita untuk mengamati pergumulan internal kita sendiri, untuk mengenali saat-saat ketika kebencian membuat kita bertindak melawan sifat baik kita. Iri hati, perasaan gelap yang dapat mengaburkan penilaian kita dan menyebabkan kita bertindak dengan cara yang kita sesali, mengingatkan kita akan pentingnya menumbuhkan kasih dan rasa syukur di dalam hati kita. Dengan memupuk pola pikir bersyukur dan belajar merayakan kesuksesan orang lain, kita tidak hanya membebaskan hati kita dari beban rasa iri, namun kita juga membuka pintu menuju pertumbuhan sejati dan hubungan yang lebih dalam dengan orang-orang di sekitar kita. Dengan melakukan itu, kita tidak hanya menyembuhkan jiwa kita tetapi juga menciptakan lingkungan yang mendukung dan positif. 
Selamat beraktifitas, Tuhan Yesus memberkati. 

Kamis pekan Prapaskah 3
Maret 12'2026 
Luisfunan💕

Benih Kehidupan

Tumbuhkan Cinta kasih (Michael Kolo)

DARI KEMATIAN KE KEHIDUPAN KEKAL

KETIKA IBLIS MENGUASAI