Satu dalam Kristus
Bacaan 1 Korintus 1:1-3
Salam
1:1 Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Sostenes, saudara kita,
1:2 kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita.
1:3 Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.
~~~~~□~~~~~
Pembukaan.
1 Korintus pasal 1 memperkenalkan tantangan-tantangan gereja di Korintus. Mengapa kesatuan dalam Kristus sangat penting? Paulus membahas perpecahan dalam gereja, menekankan pentingnya Kristus dan kebodohan salib. Teks ini mengkontraskan hikmat manusia dengan hikmat Allah, dan menekankan bahwa keselamatan datang melalui iman, bukan status atau kecerdasan. Paulus juga berterima kasih kepada Tuhan atas karunia yang diberikan kepada gereja.
Pendalaman 1 Korintus 1:1-3.
Surat Korintus yang pertama ditulis setelah Paulus menerima kabar buruk dari orang-orang Kloe. Berita buruk tersebut adalah timbulnya persoalan-persoalan, seperti keikutsertaan jemaat Korintus dalam upacara-upacara keagamaan pagan, penghakiman di depan kaum pagan dan pelacuran. Selain masalah-masalah etis dan moral, surat ini juga merupakan surat penggembalaan untuk menegur jemaat di Korintus. Gereja di Korintus didirikan pada perjalanan penginjilan Paulus yang kedua, sekitar musim gugur tahun 52 M, seperti yang tertulis dalam Kisah Para Rasul 18:1-18.
Di Korintus, Paulus tinggal selama 18 bulan, mengasuh gereja yang baru ini, sambil sehari-hari bekerja sebagai tukang membuat tenda. Paulus menyebut orang Korintus "tidak kekurangan dalam suatu karunia pun". Atas keadaan inilah, jemaat di Korintus menjadi sangat bergembira, tetapi sikap ini juga yang membuat jemaat di Korintus menjadi congkak, puas diri, sehingga keadaan jemaat menjadi kacau. Akibat kekacauan ini, jemaat Korintus mengalami ekstase (kegembiraan yang meluap). Ekstase ini ditujukan bukan lagi kepada Kristus, melainkan terhadap perempuan-perempuan yang dapat memenuhi hasrat mereka. Terjadinya berbagai macam penyimpangan moral di jemaat Korintus sebenarnya timbul dari komunitas Yahudi Gnostik. Gnostisisme adalah gerakan spiritual yang memengaruhi kehidupan Kristen, awalnya di sekitar Laut Tengah. Selanjutnya, dalam praktik penyembahan berhala, jemaat di Korintus dipengaruhi oleh pemikiran Yunani yang rasionalis.
Ketika kita membuka Surat Pertama kepada Jemaat di Korintus, kita menemukan bahwa Paulus tidak hanya menyampaikan salam, tetapi juga menetapkan prinsip-prinsip dasar tentang identitas kita di dalam Kristus. Paulus menegaskan bahwa panggilannya menjadi rasul bukanlah atas keputusannya sendiri, melainkan atas kehendak Tuhan. Hal ini mengingatkan kita bahwa setiap orang beriman mempunyai tujuan ilahi, yang ditentukan bukan oleh kebetulan atau prestasi pribadi, namun oleh kedaulatan Allah.
Saat ini, banyak orang bergumul dengan tujuan hidupnya. Mereka bertanya pada diri sendiri: Untuk apa saya berada di sini? Apakah pekerjaanku, studiku, pelayanan gerejaku mempunyai arti? Jawabannya adalah Tuhan punya rencana khusus untuk setiap orang. Tidak semua orang akan menjadi rasul seperti Paulus, namun kita semua dipanggil untuk memuliakan Tuhan melalui apa yang kita lakukan.
Inilah saatnya merenungkan tujuan yang telah Tuhan tetapkan bagi hidup Anda. Tidak peduli keadaan atau tekanan eksternal, Anda dipanggil untuk hidup bagi Dia, dalam kekudusan dan kedamaian. Berhentilah mencari pengakuan di dunia dan mulailah menemukan identitas Anda sepenuhnya di dalam Kristus. Hiduplah dengan sengaja, dengan pikiran yang terfokus pada pemenuhan tujuan Tuhan bagi Anda, bersandar pada rahmat-Nya dan mencari kedamaian yang melampaui segala pemahaman kepada-Nya. Apa pun yang Anda hadapi, ingatlah bahwa di dalam Kristus segala sesuatu mempunyai arti dan nilai
Penutup.
1 Korintus 1:1-3 mengingatkan kita dengan jelas dan mendalam bahwa setiap orang percaya telah dipanggil oleh Allah untuk tujuan ilahi, bukan karena jasanya sendiri, tetapi karena anugerah dan kedaulatannya. Identitas kita di dalam Kristuslah yang menentukan kekudusan kita, bukan tindakan lahiriah kita, dan melalui kasih karunia itulah kita dapat hidup dalam damai, bahkan di tengah kesulitan. Dengan memahami bahwa kita dipanggil untuk hidup secara berbeda di dunia ini, kita dapat menerima tujuan Tuhan bagi kita, hidup dengan integritas, dan menyaksikan kuasa transformatif-Nya. Pada akhirnya, apa yang menonjol dalam ayat-ayat ini adalah bahwa semua ini didasarkan pada rahmat dan kedamaian yang Tuhan kita Yesus Kristus tawarkan kepada kita.
Selamat berakhir pekan, Tuhan Yesus memberkati.
Sabtu Pekan Paskah 6
Mei 16'2026
Luisfunan💕